Website Resmi Dinas Kesehatan Pematangsiantar



Berita

Mengenal Penyakit Jantung Bawaan: Gejala, Penyebab, dan Pentingnya Deteksi Dini

Admin Dinkes 09 Feb 2026, 13:20:40 WIB
Mengenal Penyakit Jantung Bawaan: Gejala, Penyebab, dan Pentingnya Deteksi Dini

Pekan ini kita memperingati Minggu Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan, momen penting untuk meningkatkan kesadaran tentang kondisi jantung sejak lahir.

Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan (PJB) atau Congenital Heart Defect (CHD) Awareness Week adalah momen penting yang diperingati setiap tahun pada tanggal 7 hingga 14 Februari.

​Momen ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman publik tentang kelainan struktur jantung yang dialami bayi sejak lahir, serta memberikan dukungan bagi para penyintas dan keluarga mereka.

​Penyakit Jantung Bawaan (PJB) tetap menjadi salah satu kelainan bawaan yang paling umum terjadi pada bayi baru lahir di seluruh dunia. Berdasarkan data kesehatan global, sekitar 1 dari 100 bayi lahir dengan kondisi ini. Meski terdengar mengkhawatirkan, kemajuan teknologi medis kini memungkinkan penderita PJB untuk menjalani hidup yang berkualitas jika ditangani dengan tepat.

​Apa Itu Penyakit Jantung Bawaan?

​PJB adalah kelainan pada struktur jantung yang terjadi sejak bayi masih dalam kandungan. Kelainan ini dapat melibatkan dinding jantung, katup jantung, maupun pembuluh darah yang menuju atau keluar dari jantung.

​Kondisinya bervariasi, mulai dari yang ringan (seperti lubang kecil di jantung yang bisa menutup sendiri) hingga yang kritis dan memerlukan tindakan bedah segera setelah lahir.

​Gejala yang Perlu Diwaspadai

​Tanda-tanda PJB sering kali bergantung pada tingkat keparahan kelainan tersebut. Beberapa gejala umum yang muncul pada bayi atau anak-anak meliputi:

​Sianosis: Warna kebiruan pada kulit, bibir, atau kuku.

​Napas Cepat: Terlihat sesak atau kesulitan bernapas saat menyusu.

​Pertumbuhan Terhambat: Berat badan sulit naik dibanding anak seusianya.

​Cepat Lelah: Anak mudah lelah saat beraktivitas fisik atau bermain.

​Beberapa jenis PJB tidak menunjukkan gejala sama sekali hingga anak beranjak dewasa. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin ke dokter anak sangatlah krusial.

​Faktor Risiko dan Penyebab

​Meskipun penyebab pastinya sering kali sulit dipastikan, para ahli menunjuk beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya PJB:

​Genetik: Riwayat keluarga dengan penyakit jantung.

​Kondisi Ibu saat Hamil: Ibu yang menderita diabetes tipe 1 atau rubella selama kehamilan.

​Gaya Hidup: Konsumsi alkohol, merokok, atau penggunaan obat-obatan tertentu tanpa pengawasan dokter saat masa mengandung.

​Diagnosis dan Penanganan Modern

​Saat ini, diagnosis PJB sudah bisa dilakukan bahkan sebelum bayi lahir melalui Ekokardiografi Janin (USG jantung janin). Setelah lahir, dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik, oksimetri nadi, hingga echocardiogram untuk memastikan kondisi jantung.

​Metode Penanganan:

​Pemantauan Rutin: Untuk kasus ringan yang tidak memerlukan tindakan segera.

​Kateterisasi Jantung: Prosedur tanpa bedah terbuka untuk memperbaiki lubang atau penyempitan.

​Operasi Jantung: Untuk memperbaiki kelainan struktur yang lebih kompleks.

​​Deteksi dini adalah kunci utama dalam menangani Penyakit Jantung Bawaan. Dengan pemantauan kehamilan yang baik dan skrining setelah lahir, risiko komplikasi jangka panjang dapat ditekan secara signifikan.

​ PJB bukan akhir dari segalanya. Dengan diagnosis yang tepat dan penanganan medis modern, banyak individu dengan PJB dapat menjalani kehidupan yang produktif dan bermakna.


Komentar

Tuliskan Komentar Anda!